Laman

search

Minggu, 05 Januari 2014

Celebrity Worship Syndrome sebagai Konformitas Remaja




Celebrity Worship Syndrome
sebagai Konformitas Remaja

Fidya Alvi Mufida
Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
UIN Sunan Ampel Surabaya


Abstrak: simbol status  merupakan symbol prestise yang menunjukkan bahwa orang yang memilikinya lebih tinggi yang mempunyai status yang lebih tinggi dalam kelompok. Melalui pergaulan remaja menjadikan simbol status sebagai bentuk pembentukan identitas diri yang tak jarang menjadikan gaya kehidupan selebriti sebagai acuan. Kehidupan selebriti dapat menginspirasi semua umur dari sisi positif ataupun negatif.Penampilan selebriti yang tak jarang hanyalah setting produk bisnis dapat menyebabkan kesalahpahaman bagi remaja dalam masa perkembangannya. Konformitas remaja dengan dunia selebriti yang disebut celebrity worship syndrome, ialah satu realita yang tak disadari masyarakat telah menggerus identitas remaja sebenarnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui: 1) Bagaimana celebrity worship syndrome memengarhi perkembangan remaja; 2) bagaimana dampak dan cara mengatasi celebrity worship syndrome dalam perkembangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu pendekatan untuk mengetahui perilaku manusia yang disimpulkan berdasarkan kejadian yang menjadi fenomena.Prosedur penelitian dimulai dengan melihat realita yang terjadi di masyarakat.Menentukan rumusan masalah.Melakukan wawancara terbuka dengan partisipan.Partisipan dalam penelitian ini yaitu remaja berusia 14-18 tahun.Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara terbuka yang kemudian disimpulkan melalui pendekatan teori.
Kata kunci: konformitas remaja, celebrity worship syndrome.

Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari.Oleh karena itu, tidak dapat dihindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok inilah yang disebut interaksi sosial.
Pengaruh sosial merupakan satu bentuk perubahan sikap danperilaku sebagai hasil dari interaksi sosial.Perilaku konformitas ialah salah satu bentuk pengaruh dalam interaksi sosial. Dalam interaksi sosial proses pengaruh mempengaruhi terjadi dalam kelompok masyarakat
Menurut Davidoff (1991)(dalam Krisna 2011)  yang menyatakan bahwa konformitas adalah perubahan perilaku dan sikap sebagai akibat dari tekanan (nyata atau tidak nyata). Sementara itu, Santorck (2003) (dalam Krisna 2011)  menyatakan bahwa konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan nyata maupun yang dibayangkan. Menurut Strang (dalam Mighwar 2006) konformitas merupakan usaha yang dilakukan remaja untuk bersikap sesuai dengan norma-norma kelompoknya agar dapat diterima sebagai anggota kelompok dan menghindari ketidaksamaan atau keterkucilan.
Sears, dkk (1994) (dalam Krisna 2011)  mengemukakan aspek konformitas berdasarkan adanya ciri-ciri sebagai berikut: a) perilaku, menjelaskan bahwa nilai individu dihadapkan pada pendapat yang telah disepakati oleh anggota-anggota lainnya, tekanan yang dihasilkan oleh pihak mayoritas akan mampu menimbulkan konformitas. Semakin besar kepercayaan individu terhadap kelompok, maka semakin besar pula kemungkinan diri untuk menyesuaikan dri terhadap kelompok; b) penampilan, individu yang tidak mau mengikuti apa yang berlaku dalam kelompok akan menanggung resiko mengalami akibat yang tidak menyenangkan. Peningkatan konformitas ini terjadikarena anggotanya enggan disebut sebagai individu menyimpang atau terkucil; c) pandangan, individu akan mulai mempertanyakan padangan individu lain tentang dirinya, sehingga individu tersebut harus mempunyai ciri khas sendiri baik dari pandangan maupun perilaku. Adanya perbedaan ciri yang dimiliki dengan individu lain karena individu tersebut merasa ada ciri khas yang dimilikinya.
Baron dan Byrne (2005) (dalam Krisna 2011) membagi konformitas menjadi dua aspek yaitu; a) aspek normatif. Aspek ini disebut juga pengaruh sosial normatif, keyakinan, maupun tindakan individu sebagai akibat dari pemenuhan penghargaan positif kelompok agar memperoleh persetujuan, disukai dan terhindar dari penolakan; b) aspek informatif, aspek ini disebut juga pengaruh sosisl informatif, aspek ini mengungkap adanya perubahan atau penyesuaian presepsi, keyakinan maupun perilaku individu sebagai akibat adanya kepercayaan terhadap informasi yang dianggap bermanfaat yang berasal dari kelompok.
Simbol status merupakan simbol prestise yang menunjukkan bahwa orang yang memilikinya lebih tinggi atau mempunyai status yang memilikinya lebih tinggi atau mempunyai status yang lebih tinggi dalam kelompok. Selama masa remaja simbol status mempunyai empat fungsi; status mempunyai status sosial ekonomi yang lebih tinggi; bahwa remaja bergabung dengan kelompok dan merupakan anggota yang diterima kelompok karena penampilan dan perbuatan anggota kelompok lain; dan bahwa remaja mempunyai status hampir dewasa di dalam masyarakat. (Hurlock, B. Elizabeth).
Pada usia remaja pengakuan atas status sebagai simbol prestise dapat dicapai melalui berkonformitas terhadap perilaku kehidupan selebriti, terutama yang dijadikannya tokoh idola. Celebrity worship syndrome (CWS) yaitu perilaku obsesi individu untuk menjadi terlalu terlibat di setiap kehidupan selebriti sehingga terbawa dalam kehidupan sehari-hari individu. Celebrity worship syndrome dipengaruhi oleh kebiasaaan seperti melihat, mendengar, membaca dan mempelajari tentang kehidupan selebriti secara berlebihan hingga menimbulkan sifat empati, identifikasi, obsesi, asosiasi yang menimbulkan konformitas. (Lyyn Mc CotchenNorth American Journal of Psychology).
Realitas remaja melakukan bentuk konformitas terhadap kehidupan selebriti (Celebriti worship syndrome) ialah sebagai bentuk agar mereka diakui keberadaannya (eksistensi) dan diterima di masyarakat atau kelompok tertentu. Seperti yang terjadi di Amerika Serikat terdapat bentuk konformitas celebrity worship syndrome dimana seorang remaja putri nekad mengopersi plastik tubuh dan wajahnya agar terlihat sama dengan barbie, tokoh kartun idolanya.
Bentuk konformitas remaja terhadap kehidupan selebriti tak selau menghasilkan dampak positi namun juga terdapat dampak negatif.Hal tersebut dikarenakan apa yang temapak pada selebriti seperti gaya pakaian, bentuk tubuh yang mereka lihat melalui media informasi tak lain hanyalah betuk produk industri.
Dunia televisi memang punya logika sendiri.Ia berkesan instan, yang penting adalah tampilan,performancedi televise (peduli apakah punya bobot atau tidak. Fenomena celebrity worship syndrome di Indonesia terlihat dalam reality showAsal (asli tapi palsu) yang ditayangkan stasiun televisi swasta Indonesia. Kita akan mendegar chorus bagaimana para peserta yang wajahnya mirip dengan selebriti tertentu, berharap ia akan bisa menjadi ngetop karena kehidupannya tersebut. Apa pun profesi latar belakang yang telah disandangnnya sekarang, seolah tak cukup kalau iapuntak jadi sengetop selebrti yang mirip dengannya. Padahal, banyak terjadi si “kembaran” sang selebriti itu usianya lebih tua dari selebriti itu sendiri. Jadi, sebenarnya siapa mirip siapa? Tak ada yang salah dengan orang yang punya keinginan jadi ngetop atau menjadikan dirinya sebagai selebriti yang akan dikagumi orang ketika berjalan, dikomentari ketika sedang berkeliling-keliling di mal. Banyak orang berlomba-lomba untuk tampil bak selebriti atau menjadikan diri sebagai selebriti, lewat cara apapun itu. (Ignatius Haryanto).
Konformitas pada indivudu berbeda dipengaruhi oleh: status, gender, budaya, perilaku personal, ukuran kelompok yang memengaruhi, komitmen publik dan kohesi kelompok. Bagi remaja yang berkembang dengan karakteristik yang tak mudah menerima sepenuhnya pengaruh luar dan proses kognitif berfikir yang baik, tidak akan termasuk remaja yang menyimpang dalam bentuk konformitas dengan kelompok.

Metode Penelitian
            Dengan menggunakan pedekatan fenomenologi, yaitu pendekatan untuk mengetahui perilaku manusia yang disimpulkan berdasarkan kejadian yang menjadi fenomena.Prosedur penelitian ini dimulai dengan melihat realita yang terjadi di masyarakat, menentukan rumusan masalah, melakukan wawancara terbuka dengan partisipan. Partisipan yaitu remaja usia 14-19 tahun. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara terbuka. Berikut beberapa pertanyaan yang digunakan dalam proses wawancara terbuka: 1) apakah anda memiliki satu tokoh selebriti yang anda idolakan, siapakah dia?; 2) faktor apa yang menjadikan anda tertarik   dengan selebriti tersebut?; 3) dengan cara apakah agar anda mengetahui informasi mengenai selebriti idola anda?; 4) pernakah anda mencoba meniru gaya selebriti idola anda seperti gaya pakaian, ucapan atau memakai atribut yang mengidentifikasi gaya selebriti idola anda?; 5) bagaimana pengaruh positif, negatif kehidupan selebriti idola anda memengaruhi hidup anda? Melalui serangkaian proses wawancara terbuka dengan awalan narasi terakait idola pada partisipan informasi didapatkan. Data kemudian dianalisis menggunakan pendekatan teori.

Hasil dan Pembahasan
            Hasil wawancara terbuka dengan serangkaian pertanyaan yang diajukan pada partisipan digunakan untuk menyajikan hasil penelitian.penelitian diawali dengan mengajukan narasi seputar celebrity worship syndrome pada remaja. Kemudian peneliti mengajukan pertanyaan yang terkait dengan penelitian. Untuk menjaga privasi partisipan, semua nama yang disebutkan dalam hasil dan pembahasan alah bukan nama sebenarnya. Nama mereka telah disamarkan tanpa mengilangkan keadaan riil dilapangan.
            Partisipan pertama yang saya jumpai selama proses penelitian yaitu Anggraeni remaja berusia 17 tahun. Melalui pembukaan obrolan mengenai budaya Korea yang masuk di Indonesia wawancara terbuka berjalan dengan baik.Untuk menciptakan suasana wawancara terbuka lebih santai saya memposisikan diri sebagai penikmat budaya Korea dengan mencari informasi terlebih dahulu terkait budaya Korea yang masuk di industri hiburan Indonesia.
            Menurut Anggraeni memiliki seorang selebriti idola hanya untuk kesenangan semata.Diawali dengan mengisi waktu luang dan kini telah menjadi kebiasaan yang terlanjur. Mengetahui tentang mereka telah menjadi satu hal yang bersifat kebutuhan bahkan jika tertinggal informasi terbaru tentang selebriti idola akan menjadi problem.
            Shinee dan SNSD boy band, girl band Korea yang menjadi selebriti idola Anggraeni.Dengan uptodate informasi selebriti tokoh idolanya melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter, televisi dan majalah Anggraeni memenuhi hasratnya untuk tetap menjadi penggemar sejati.Selain itu, dia menujukkan kartu identitas bahwa dia tergabung dalam komunitas shawol (penggemar boy band shinee) Surabaya. Dia aktif mengikuti event-event shawol bahkan dia tertarik untuk menjadi seperti tokoh idolanya dengan belajar dance dan berdandan seperti girl band SNSD. Pernyataan tersebut dikuatkan dengan penampilan saat wawancara terbuka. Anggraeni mengurai rambut panjangnya dan bergerak-gerik seperti girl bang SNSD yang ekspresif. Dia juga menuturkan sempat mencoba diet untuk menyamai bentuk tubuh girl band SNSD.
            Bagi Anggraeni mengetahui berita tentang selebriti tokoh idolanya telah menjadi ketergantungn.Dia mengkoleksi foto-foto, poster tokoh idolanya.Terdapat manfaat baginya dengan memiliki selebrti idola seperti dapat menghilangkan stress, memiliki banyak teman melalui komunitas dan mengetahui dunia luar. Namun, ia juga menyadari jika kebiasaan tersebut dapat menimblkan efek negatif seperti menghabiskan uang dengan pengeluaran tak terkontrol untuk membeli atribut selebriti idola seperti poster, majalah, aktif dengan jejaring sosial dan komunitas penggemar boy band, girl band dan menjaga penampilan diri untuk selalu tidak tertinggal dengan teman-teman anggota komunitas.
            Dalam realita tersebut celebrity worship syndrome yang dialami Anggraeni adalah hasil dari kebiasaan dan pengaruh lingkungan, sesuai dengan teori psikologi behaviorbahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh lingkungan. Dan melalui kebiasaan yang teratur (clasisal conditioning) secara tidak sadar Anggraeni telah mendapat tekanan nyata dan bayangan melalui teman komunitas dan kebiasaannya untuk mengikuti kehidupan selebriti idilanya. Sesuai dengan pernyataan Santrock (2003)(dalam Krisna 2011)  mengenai konformitas, konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan nyata maupun yang dibayangkan. Meski Anggraeni memiliki pemahaman atas apa yanga dilakukan memiliki efek negatif dan positif dia tetap melakukan kebiasaannya karena itulah bentuk perilaku agar ia tetap diterima dan diakui dalam kelompokknya.
            Kejadiaan yang terjadi pada Anggraeni berbeda dengan yang dialami Rahma, 18 tahun mahasiswa psikologi.Cinta Laura artis Idonesia dengan multi talent dan baik secara akademis menjadi selebriti idola baginya.Dengan mengetahui dan mengidolakannya dia merasa mendapat efek positif bagi dirinya. Baginya gaya Cinta Laura yang centil telah tercermin dalam penampilannya yang memang centil. Dengan kecentilannya dia bisa mendapat perjatian dan pengakuan dari orang sekitar. Pencapaian akademis Cinta Laura yang baik menjadi penyemangat baginya namun, dia tidak pernah meniru gaya busana atau kata-kata yang menjadi kebiasaan Cinta Laura. Baginya kepribadian tiap individu itu berbeda dan tidak dapt disetting.
            Celebrity worship syndrome sebagai konformitas yang dialami Rahma tidak banyak memberi efek negatif, hal tersebut disebabkan dia memiliki pemahaman dan latar belakang pendidikan yang menjadi dasar perkembangannya dalam mendapat identitas dirinya.
            Melalui penelitian tersebut dapat diperoleh bahwa celebrity worship syndrome sebagai konformitas remaja besar kemungkinan terjadi karena kondisi eksternal yang memengaruhi remaja dan kurangnya kepercayaan diri remaja untuk mengkaui identitas diri yang sebenarnya.

Simpulan dan Saran
            Eisenberg (1983) menyatakan, aktor yang bermain di televisi juga sebagai model.Hal ini tidak bisa dipungkiri betapa pesona televisi telah memengaruhi perilaku orang sedemikian rupa.Banyak orang yang tidak secantik bintang film namun sering kali memaksakan seperti bintang film.Baginya penampilan yang terlihat tidaklah perlu dirisaukan, yang penting adalah dia telah merasa sebagai bintang yang dia jadikan model tersebut.
            Memang dalam dunia jurnalisme dikenal salah satu syarat berita, yaitu prominence(keterkenalan sang sumber). Tetapi dengan semata-mata menekankan pada unsur prominence dalam pembuatan berita atau infotainment tadi, maka unsur lain sebagai syarat berita menjadi kabur. Tak penting lagi mempertimbangkan soal significance dari kejadian yang dialami sang artis bagi pembacanya, tak penting pula apakah memang ada suatu fenomena yang baru terjadi, atau sekedar mengulang-ulang pola lama (pacaran, selingkuh, menikah, bercerai, menggugat diperadilan). Atas namaprominence-nya sang artis, segala aspek dunia artis menjadi “berita” di berbagai   tayangan infotainment. Tak peduli apakah melanggar kehidupan pribadi si artis atau tidak, tayangan akan terus muncul (Ignatius Haryanto).
            Sejalan dengan konsep untuk mengubah perilaku yang kurang adaptif dalam kajian psikologi sosial pendidikan yaitu insight (pemahaman), conditioning (pembiasaan) dan modeling (keteladanan). Diperlukan pemahaman dari dalam diri remaja selama masa perkembangan.
            Orang tua dan guru tidak dapat mengawasi remaja dari dekat seperti yang dilakukan ketika masih anak-anak.Oleh karena itu, sekarang remaja harus bertanggung jawab dalam pengendalian perilakunya sendiri. Bila dahulu dipercaya bahwa ketakutan baik akan hukuman maupun akan penolakan sosial merupakan pencegah yang terbaik untuk melakukan kesalahan, sekarang hal itu dimengerti sebagai sumber motivasi berdasarkan pengendalian dari luar yang hanya efektif bila ada perilaku yang nyata-nyata salah dan hukuman bagi pelakunya.            
            Misalnya, sejumlah telaah mengenai kenakalan anak-anak, remaja menunjukkan bahwa hukuman tidak hanya mencegah perbuatan salah tetapi malah sering menjadi pendorong untuk berperilaku salah. Juga dapat terbukti bahwa ketakutan karena akan dipermalukan tidak efektif untuk mencegah perbuatan salah bila sedikit sekali kemungkinan orang lain akan mengetahui perbuatan tersebut atau bila individu merasa dapat memberikan alasan yang masuk akal bagi perbuatan-perbuatannya atau menyalahkan orang lain, sehingga dapat terhindar dari hukuman atau penolakan sosial.
            Telaah-telaah mengenai perkembangan moral telah menekankan bahwa cara yang efektif bagi semua orang tua untuk mengawasi perilakunya sendiri melalui pengembangan suara hati, yaitu kekuatan kedalam  (batiniah) yang tidak memerlukan pengendalian lahiriah. Apabila anak-anak atau remaja mengasosiasikan emosi yang menyenangkan dengan perilaku yang didukung kelompok, dan emosi yang tidak menyenangkan dengan perilaku yang tidak didikung kelompok, maka ia harus mempunyai motivsi sendiri untuk berperilaku seduai dengan standar kelompok. Dalam kondisi demikian, individu akan merasa bersalah bila menyadari bahwa perilakunya tidak memenuhi harapan sosial kelompoknya, sedangkan rasa malu timbul hanya bila ia sadar akan penilaian buruk kelompok terhadap perilakunya. Perilaku yang dikendalikan oleh rasa bersalah adalah perilaku yang dikendalikan dari dalam, sedangkan perilakku yang dikendalikan oleh rasa malu adalah perilaku yang dikendalikan dari luar.
            Dalam diri seseorang yang mempunyai moral yang matang, selalu ada rasa bersalah dan malu.Namun, rasa bersalah berperan lebih penting dari pada rasa malu dalam mengendalikan perilaku apabila pengendalian lahiriah tidak ada.Hanya sedikit remaja yang mampu mencapai tahap perkembangan moral yang demikian sehingga remaja tidak dapat disebut secara tepat orang yang “matang secara moral” (Hurlock, B. Elizabeth).
            Bagi remaja, memiliki seorang idola tidaklah ada salanhnya.Namun, dalam berkonformitas dengan selebriti idola hendaknya yang bersifat positif yang tidak menyebabkan penyimpangan dalam dirinnya.Identitas diri sebagai remaja yang mudah tertarik dengan hal baru hendaknya diarahkan, jangan sampai ketertarikan diri dengan selibriti tokoh idola justru merusak identitas diri remaja.Sebab, berlebihan dalam berkonformitas dengan selebriti tokoh idola ialah salah satu bentuk penyimpangan dalam dunia psikologi disebut celebrtity worshipsyndrome.  Setiap individu terlahir unik dan berbeda, berusaha untuk menyamai pribadi lain hanyalah menurunkan jati diri individu itu sendiri.
            Dapat disimpulkan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa tingkat celebrity worship syndrome sebagai konformitas dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman dan kematangan moral remaja.
            Bagaimanapun penelitian ini masih perlu ditindak lanjuti dan penyempurnaan.Oleh karena itu, bagi peneliti selanjutnya yang membahas topic ini diharapkan mengontrol validitas data, pendekatan teori dan metode penelitian yang lebih baik.














Daftar Pustaka
Hurlock, E.B. 1999. Psikologi  Perkembangan (Suat Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan). Jakarta: Erlangga.
Haryanto, Ignatius. 2006. Aku selebriti maka aku penting. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Taufik.2012. Empati Pendekatan Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Sarwono, Sarlito W. 2013. Pengantar Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Eisenberg. 1983, The National Association for Human and Enviromental Educatioan. “The socializatioan and Develompent of Empathy and Social Behaviour”.
Steinberg, l. 1993.Adolescence-Third Edition. New York: McGrw-Hill, Inc;
Baron, R.A & Byrne, D. 2002.Psikologi Sosial jilid 2. Jakarta: Erlangga;
Davidoff, L. 1991. Psikologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT . Gunung Agung;
Santorck, J.W. 2003.Live Span Development (perkembangan masa hidup). Edisi
5. Alih Bahasa: Chausairi, A. Jakarta: Erlangga. DalamJurnal hubungan antara
konformitas teman sebaya dan konsep  diri dengan kemandirian pada remaja
panti asuhan muhammadiyah karanganyar. Krisna Susilowati.
Lyyn Mc Cotchen North American Journal of Psychology.Diakses dari http://www.H\celebritysyndrom\Celebrity worship syndrome - Wikipedia, the free encyclopedia.mht.pada tanggal 25 Desember 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar