Halaman

search

Kamis, 14 November 2013

Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya



“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” peribahasa yang tak asing lagi bagi kita. Memiliki arti “sifat anak tak jauh dari orangtuanya”. Perilaku yang nampak pada anak tak lain ialah bias dari apa yang mereka amati dari lingkungan, terutama keluarga yang menjadi tempat pertama anak memulai pertumbuhan dan perkembangan.
Pada usia dini terdat masa golden age masa keemasan, di mana anak sangat peka dan sensitif dengan stimulus yang mereka terima. Anak usia dini lebih mudah meniru dan langsung mengidentifikasi apa yang mereka terima. Sesuai dengan teori behaviorisme yang digagas       BF. Skinner memandang kepribadian sebagai rangkaian kebiasaan (habit) yang tersusun dari sejumlah hubungan rangsang (stimulus) dan reaksi (respon) yang memperoleh penguatan (reinforcement) baik positif, negatif atau hukuman.
Seorang anak yang mendapat stimulus baik dan menjadi kebiasaan sejak kecil cenderung akan menjadi baik pula, sebaliknya anak yang mendapat stimulus negatif saat usia dini tidak menutup kemungkinan akan tumbuh menjadi pribadi yang negatif. Oleh karena itu, peran keluarga terutama orangtua sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dengan melihat tahap perkembangan kepribadian menurut Sigmund Freud yang meliputi:
·         0-1 th fase oral. Fase bayi cenderung menggunakan mulut (makan,minum)
·         1-2/3 th fase anal. Toilet training bayi mulai melakukan aktivitas buang air besar, kecil.
·         2/3-5 th fase falic. Pendekatan anak pada kedua orangtua, anak laki-laki cenderung dekat dengan ibu sedang anak perempuan dekat dengan ayah.
·         5/6-12/13 th fase laten. Fase anak mulai mengidolakan apa yang mereka anggap menarik, masa pubertas.
·         12/13 th-dewasa fase genital. Fase mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis, dan ada rasa bertanggung jawab.
Sesuai dengan tahapan yang ada diatas kita bisa mengetahui sejak lahir usia 0 th anak mulai melakukan proses perkembangan. Pada fase ketiga , yaitu fase falic antara usia 1-2/3 th peran orang tua dalam keluarga berada di posisi terpenting. Pada fase itulah anak mendekatkan diri kepada orang tua,  mereka akan mengasosiakan apa yang mereka terima dari orangtua. Anak yang mendapat perlakuan baik dari orangtua secara tidak langsung akan mengasosiakannya dalam bawah sadar dan menimbulkan perilaku yang baik pula. Oleh karena itu anak yang berasal dari keluarga utuh yang harmonis akan tumbuh dan berkembang dengan baik, tak harus berasal dari keluarga yang memiliki latar baik secara akademis.
Sebab, tak jarang anak yang berasal dari keluarga baik secara akademis tetapi tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang tidak baik. Hal tersebut disebabkan oleh keadaan keluarga yang memiliki tingkat akademis baik terkadang lebih banyak meluangkan waktu untuk berada   di luar rumah. Sehingga mereka tidak mendapat kenyamanan, perhatian yang sempurna dari orangtua. Bahkan tidak sedikit anak merasa terabaikan atas perlakuan orang tua yang lebih berperan untuk kepentingan di luar rumah.
Pada posisi seperti itu sangatlah rawan apabila anak tidak memiliki figur baik yang dapat mereka jadikan untuk menggantikan peran orang tua di rumah sementara waktu seperti nenek, kakek atau saudara. Mereka akan menjadiakan figur selainnya yang bisa jadi ialah figur yang tidak baik untuk diidolakan, seperti yang terjadi pada anak usia dini saat ini. Tidak sedikit anak usia dini yang mengidolakan artis dewasa yang tidak layak dijadikan idola bagi mereka.
Hal tersebut dapat diketahui melalui cara berpakaian, tutur bahasa, tingkah laku dan lagu-lagu yang difavoritkan anak-anak. Sedah seharusnya jika anak-anak lagu yang difavoritkan juga lagu anak-anak, seperti lagu “ambilkan bulan” Tasya Kamila. Tetapi sekarang ini tak jarang kita temukan anak-anak bisa menyanyikan bahkan hafal lagu-lagu dewasa, seperti yang hits saat ini lagu Cherrybelle. Girl band Cherrybelle mejadi figur yang sangat berpengaruh di semua kalangan, salah satunya anak-anak. Dengan ciri khas Cherrybelle yang kekenak-kanakan membuat anak usia dini tertarik. Mereka mulai meniru cara berpakaian, gaya bahasa bahkan mengerti isi lagu percintaan dewasa yang hal tersebut tidak baik untuk psikologis mereka.
Sudah seharusnya orang tua harus bisa mengarahkan kepada siapa anak memulai untuk berasosiasi dengan tokoh idolanya. Dan orangtua juga harus bisa memperlakukan anak-anak selayaknya seperti anak-anak. Karena tak menutup kemungkinan dari perlakuan orangtualah anak-anak menjadi tak seperti anak-anak. Misalnya orangtua memaksakan anak-anak memakai pakaian seperti orang dewasa, menonton acara tv untuk orang dewasa dan sebagainya.
Mulai saat ini, berhati-hatilah orangtua dalam memperlakukan anak-anak. Sedikit salah bisa fatal akibatnya untuk masa depan anak. Karena itulah awal pembentukan kepribadian mereka yang bisa bersifat permanen. Seperti peribahasa diawal “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.